
Kaki ringkihnya tetap berjalan, pundak dipaksa kuat menopang beratnya kayu bakar. Ditambah lagi benjolan di leher besarnya luar biasa. Mbah gak mau nyerah! Kalau diam, hari ini mau makan apa?....

Mbah Dasinem (94) mati-matian berjuang mengais rupiah seorang diri. Selama 15 tahun terakhir, ia hidup dengan benjolan besar di leher yang terus membesar.
Tubuhnya juga kini semakin renta. Tak peduli bagaimanapun kondisinya Mbah tetap berangkat mencari kayu bakar dari kebun setiap pagi. Kayu seberat sekitar 5 hingga 8 kilogram itu digendong sejauh kurang lebih 8 kilometer untuk dijual seharga Rp5.000 per ikat.

"Kalau kayunya nggak laku, ya pulang bawa lagi. Besok dijual lagi, yang penting masih bisa usaha," tutur Mbah pelan.
Mbah berjualan dari pukul 6 pagi hingga 5 sore. Namun dagangannya sering tak laku, bahkan saat berjalan melewati anak-anak yang sedang bermain, mereka kerap berlari ketakutan melihat benjolan besar di leher Mbah.
Saat cuaca terik, pandangan Mbah mulai kabur dan kepalanya terasa sangat sakit. Namun ia tetap memaksakan diri berjalan, sebab jika hari itu tidak mendapat uang, belum tentu ada makanan yang bisa dimasak.

Sepulang berjualan, Mbah kembali ke rumah sederhananya yang masih berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu. Ketika hujan turun, atap yang bocor membuatnya harus berpindah-pindah mencari sudut rumah yang masih kering untuk berteduh.
Suami Mbah telah lama meninggal dunia, sementara anak-anaknya yang bekerja sebagai petani juga hidup dalam keterbatasan. Jika kayu bakarnya tidak terjual, Mbah hanya memetik daun di kebun untuk dimasak agar perutnya tetap terisi.

Sisa usia Mbah Dasinem seharusnya dijalani dengan tenang, bukan terus memikul beban hidup seorang diri. Rezeki yang terkumpul dari #OrangBaik akan membantu kebutuhan sehari-hari dan memperbaiki tempat tinggal Mbah agar lebih aman.