
Matius 11:28: “Tuhan Yesus yang penuh kasih, Engkau mengundang kami untuk datang kepada-Mu yang memberi kelegaan. Dalam kelemahan ini, aku datang kepada-Mu. Berikanlah ketenangan dan kekuatan untuk melewati masa sulit ini. Aku percaya Engkau adalah penyembuh jiwa dan tubuhku.”

Dua tahun lalu, hidup Mbah Purwanti berubah setelah dirinya menjadi korban tabrak lari. Pinggang sebelah kirinya mengalami retak hingga membuat beliau tak lagi kuat berdiri dan harus berjalan menggunakan alat bantu.
Kini di usia 63 tahun, Mbah Purwanti menjalani hari-harinya dengan penuh keterbatasan. Saat di rumah beliau berpindah menggunakan kursi bantu, sedangkan saat berjualan, Mbah harus berjalan perlahan memakai walker menyusuri gang-gang kampung.

Setiap pagi sejak pukul 7, Mbah mulai membawa kerupuk dagangannya. Hingga sore sekitar pukul 4, beliau tetap berjalan sejauh kurang lebih 6 kilometer demi mencari pembeli.
“Kalau capek pasti capek, tapi kalau saya diam, uang datang dari mana? Jadi saya harus jemput sendiri,” ujar Mbah Purwanti.
Namun perjuangan panjang itu sering kali tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Dari satu bungkus kerupuk yang terjual, Mbah hanya memperoleh keuntungan sekitar Rp1.000, bahkan terkadang sehari hanya membawa pulang Rp5 ribu hingga Rp10 ribu saja.

Tidak semua hari dagangannya habis terjual. Ada kalanya kerupuk yang dibawa berhari-hari menjadi tidak layak jual karena sepi pembeli, sementara kebutuhan makan tetap harus dipenuhi.
Di tempat sederhana yang selama ini hanya ditumpangi, Mbah Purwanti hidup dengan kondisi yang sangat terbatas. Beliau tidur hanya beralas tikar karena tidak memiliki kasur, sementara dapur dan kamar mandi menyatu dalam satu ruangan sempit.

Karena tidak memiliki kompor, Mbah biasanya memasak menggunakan susunan batako seadanya. Bahkan saat kerupuknya tak laku dan tak ada tetangga yang memberi makanan, beliau hanya bisa mengganjal perut dengan air putih agar tetap kuat menjalani hari.
Meski tubuhnya sering kesakitan dan hidup serba kekurangan, Mbah Purwanti tetap memilih berjualan setiap hari. Sebab bagi beliau, selama masih bisa melangkah pelan-pelan, beliau ingin tetap berusaha demi bertahan hidup.
Dalam doa Mbah Purwanti berkata lirih… “Tuhan, kuatkan aku, izinkan aku bertahan sekarang, esok, dan seterusnya. Biarkan aku memiliki tenaga untuk menjalani hari yang semakin berat ini,”
**
Sahabat, melalui kebaikan kita, kehidupan Mbah Purwanti bisa jadi lebih ringan. Mungkin saja, Tuhan menggerakkan hatimu membaca kisah ini, karena ada berkat untuk Mbah yang dititipkan melalui tanganmu yang penuh kasih.
Ayo berbagi, dengan cara :