
Jika 22 anak di Rumah Aira bisa memilih mereka juga tak mau menanggung "warisan" HIV/AIDS. Tentunya berat bagi mereka hidup dengan cacian, diskriminasi, dan terasingkan.

Untungnya masih ada Bunda Magdalena yang peduli dan mau merawat mereka. Dengan tulus beliau memanusiakan anak-anak ini, saat orang lain bahkan keluarga menjauh.
Tahun 2015 jadi titik balik untuk Bunda Magdalena, waktu itu anak penyandang HIV berusia 7 tahun meninggal di pangkuannya. Sejak itulah keinginan bunda menyelamatkan penyandang HIV semakin besar.

Bunda tidak memandang HIV sebagai sesuati yang najis, aib, atau sebagainya. Karena beliau tau banyak penyandang yang tak berdosa harus menanggung virus mematikan ini.
Malangnya mengelola panti HIV tidak semudah itu. Tidak semua orang mau membantu anak-anak dengan HIV. Bunda Magdalena dengan berat hati sudah tak bisa menerima anak lagi walau banyak yang memohon untuk bisa dirawat.

Kebutuhan gizi dan vitamin penyandang HIV lebih banyak karena daya tahan tubuh mereka lemah. Belum lagi biaya sekolah anak-anak yang cukup besar tiap bulannya.
#OrangBaik, maukah kamu membantu Bunda Magdalena selamatkan 22 anak yang tak berdosa.
![]()
Menanti doa-doa orang baik